Saat Keajaiban itu Tidak Dirasakan
Oleh Ikrimah Retno Handayani
Saat tapak kaki terasa begitu berat tuk melangkah, namun tak
sanggup jika harus berbalik arah. Saat itulah hati dan jiwa berkecamuk meramu
melodi arah yang tak lagi terarah. Islam hadir ditengah kebingungan melanda dan
kejahiliyahan merajalela, Islam merambah dan merasuk ke dalam sanubari insan-insan
manusia. Islam adalah kedamaian yang tak terbantahkan, sekalipun ada banyak
jutaan manusia menyangkal tapi sejatinya akal dan dalam satu sudut kecil hati
manusia pasti merasakan Islam adalah muara dan sumber kedamaian, hanya saja
terkadang banyak dari kita lebih menuruti hawa nafsu hingga mempergunakan akal
untuk mencari pembenaran bukan kebenaran.
Ada sebuah kisah yang terjadi kepada seorang anak manusia, yang
pernah tertatih dan terjerembab dalam jurang nestapa karena manusia lainnya.
Sebut saja ia Irha, seorang wanita yang lahir 21 tahun lalu di sebuah desa yang
terletak di pulau sumatera. Saat ini ia tengah mengenyam pendidikan Strata 1
(S1) disebuah Perguruan Tinggi yang bernama Al Multaazam, lebih tepatnya
Sekolah Tinggi Ilmu Al Qur’an Al
Multazam, Kuningan. Tempat yang tidak pernah menjadi tujuan awalnya, justru
mengenalkan juga mengajarkan banyak hal tentang hidupnya.
Selain harus tertatih karena menghafal al Qur’an ia pun harus
berusaha ekstra dalam memahami pelajaran kuliah yang bisa dikatakan baru ia
pelajari, seorang yang hanya bermodalkan tekad saja, tanpa pengalaman, tanpa
pengetahuan luas tentang al Qur’an dan agama, mengambil jurusan yang bisa
dibilang jauh daari basicnya. Ia adalah lulusan sekolah umum yang kuliah dengan
jurusan agama, lebih tepatnya Tafsir al Qur’an.
Ada suatu peristiwa dimana ia merasakan gelap dan hampa dalam
hidupnya, ia terlihat dekat tapi terasa begitu jauh dari Allah ta’ala. Hambar,
semua aktivitas sehari-harinya terasa begitu hambar, begitu membosankan bahkan
tak lagi ada semangat membara seperti saat pertama ia belajar. Bagaimana? Bagaimana
bisa hati seorang penghafal al Qur’an kosong? Saat hari-harinya diisi dengan
tilawah-tilawah al Qur’an juga ibadah kepada Tuhan. Kesukaran juga kepelikan
tidak dapat dielakkan, semua terasa begitu menyesakkan, hingga muncul
pertanyaan “Katanya menghafal menjemput kedamaian, mengapa terasa begitu
menyesakkan?”. Tak ada binar bahagia, yang ada hanya kesuraman dalam
hari-harinya, hingga ia mendengar sebuah petuah dari seorang pengajar di
kampusnya “Sebenarnya motivasi terhebat bagi saya itu Cuma satu ya al Al Qur’an,
jikalau hati hampa saat berinteraksi dengannya maka ada yang salah dengan cara
kita berinteraksi dengannya. Entah karena niat, tujuan atau apapun itu yang
bersifat keduniaan.”
Waktu seakan berhenti sejenak, memutar memori-memori yang seakan
hilang ditelan ketamakan akan kefanaan dunia. Ia yang sering merasa keajaiban
itu tidak ada, justru sebaliknya sejatinya keajaiban itu teramat sering terjadi
hanya saja tidak pernah ia sadari. Sahabat, kadang kita melupa bahwasannya
hakikat tujuan dari menghafal itu bukan untuk menjadi hafidz-hafidzhoh
melainkan mencapai ridho Allah. Kita lupa diantara sekian banyak kepelikan
hidup ada begitu banyak nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Ada pepatah
mengatakan “1000 kebaikan akan hilang karena 1 kejahatan” sejatinya kitalah
penjahat itu, yang begitu mudah melupakan Allah, begitu mudah menyalahkan Allah
hanya karena satu kesukaran yang kita rasakan.
Sahabat, sejatinya Allah itu dekat bahkan amat sangat dekat, kitalah yang teramat sering mengambil jarah dengan-Nya. Bagaimanasih cara menghafal yang baik dan memahami al Qur’an yang benar? Salah satunya ya dengan masuk STIQ Al Multazam, selain fasilitas yang didapatkan juga lingkungan yang penuh dengan kekeluargaan. Yuk klik link https://drive.google.com/file/d/1foUYzgHXgZWJ_8Z4Ok1aCMkTNVJd8w0q/view?usp=sharing untuk mendapatkan informasi tentang PMB STIQ Al Multazam, juga kunjungi website http://stiq-almultazam.ac.id/ dan sosial media STIQ Al Multazam ig https://www.instagram.com/stiqalmultazamofficial/ youtube https://www.youtube.com/c/STIQAlMultazamOfficial dan jadi keluarga besar Al Multazam, Kuningan. Berikut adalah beberapa dokumentasi kegiatan saya di STIQ Al Multazam.
Ini adalah
foto generasi FORERUNNER ikhwan dan akhwat, dimana generasi ini lahir
diangkatan ke-3 sejak berdirinya STIQ Al Multazam
Ini adalah
foto dari kegiatan Tahsin dan Tahfidz al Qur’an yang dilaksanakan dari hari
senin-sabtu dimulai pukul 07.00-11.30 WIB, dan dalam foto ini kami tengah
merayakan seorang rekan kami yang telah mentasmi’kan (membaca tanpa melihat) al
Qur’an 30 Juz satu kali dudukan.
Ini adalah
salah satu foto saya dalam organisasi ketika terpilih menjadi bakal calon
presma dalam wawancara terakhir dan qodarullah saya terpilih menjadi calon
presma dengan no. Urut 3. Selain itu beberapa pengalaman organisasi saya di
STIQ Al Multazam ada dalam organisasi DPM (2019), BEM (Periode 2020-2021 dan
2021-2022), UKM LDK ( Periode 2021 dan 2022), UKM KAMMI dan UKM LITERASI.
Ini
adalah foto kegiatan kuliah tepatnya saat saya dan teman-teman saya tengah
melaksanakan KKN di Desa Cinagara, Lebakwangi, Kuningan.
Berikut
adalah foto bersama salah satu dosen favorit saya, beliau berasal dari
Kalimantan. Saya menyukai pemikiran juga gagasan beliau dalam mengajar, selain
itu beliau juga seorang yang sangat ramah dan baik hati, walau terkadang kami
suka sebal sendiri karena beliau yang amat teliti dalam mengoreksi tugas kami,
beliau juga seorang penguji skripsi yang ditakuti. Tapi justru itulah yang
menjadi alasan saya menjadikan beliau salah satu dosen favorit saya. (semoga
beliau tidak membaca blog saya)
TERIMAKASIH
DAN JANGAN LUPA KOMENTAR DI BAWAH PENGALAMAN SEPERTI APA YANG PERNAH KALIAN
ALAMI SAAT MERASAKAN KEAJAIBAN!



.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)

Komentar
Posting Komentar